style='overflow:auto; width:ancho; height:200px;'>

Kamis, 05 Mei 2011

Gejala alam tsunami

Posted by teguh aryax On 10.39 0 komentar


Tsunami merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Keberadaan pulau-pulau yang dikelilingi laut membuka peluang yang semakin besar bagi terjadinya tsunami. Apabila air laut terpengaruh sehingga menyebabkan naiknya gelombang laut diluar batas normal, maka bencana tsunami dapat terjadi. Oleh karena itu ada baiknya masyarakat lebih mengenal ciri-ciri dan penyebab tsunami.

Tsunami berbeda dengan badai angin atau badai hujan yang deras atau bahkan topan yang keras dapat menghancurkan rumah dan menimbulkan korban jiwa. Tsunami juga bukan gelombang ombak besar disertai angin keras dan kuat dari lautan. Tsunami dapat dikenali dari beberapa ciri yang dimilikinya. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut.
  • Ketika terjadi gempa bumi, letusan gunung berapi dan tanah longsor di dasar laut serta dampak meteorit, a ir laut seketika berangsur surut atau naik secara mendadak dari garis pantai.
  • Gelombang air laut bergerak dengan cepat.
  • Memiliki gelombang pasang yang tinggi amplitudonya dan panjang. Dalam beberapa kasus amplitudo gelombang dapat mencapai 50 meter. Sedangkan panjang gelombang mencapai ribuan kilometer. Kapal kapal di tengah laut tidak merasakan adanya tsunami
  • Gelombang tsunami bergerak dengan kecepatan mencapai 500 sampai 1000 km perjam, tergantung dengan kedalaman laut . Biasanya membawa material lumpur laut yang cukup banyak
  • Biasanya gelombang laut itu akan menghantam pantai atau pelabuhan terdekat dalam waktu 10 sampai 30 menit.
  • Berpotensi besar menghantam pantai atau pelabuhan laut yang terdekat dengan sumber tsunami.
  • Gelombang tsunami biasanya berlapis-lapis. Setiap lapisan gelombang memiliki panjang gelombang sekitar 150 meter dan membutuhkan periode waktu sekitar 10 detik.

Penyebab Tsunami
Benda Langit
Sebagai peristiwa yang terjadi di lautan, penyebab tsunami secara umum dibagi dua, yaitu penyebab yang berasal dari dalam laut maupun penyebab yang berasal dari atas atau luar laut. Penyebab yang berasal dari atas umumnya berupa hempasan meteor atau benda langit yang jatuh dan masuk ke laut dengan tingkat benturan yang keras sehingga menimbulkan gelombang besar.
Sekecil apapun ukuran meteor namun karena kecepatannya yang tinggi akan menimbulkan benturan yang kuat sehingga menghasilkan energi yang cukup besar pula bagi terjadinya gelombang. Namun tsunami yang diakibatkan oleh jatuhnya benda angkasa atau meteor sangat jarang terjadi.
Penyebab tsunami yang paling sering terjadi berasal dari akfititas di dasar laut yang memunculkan gangguan terhadap kondisi air laut. Penyebab ini meliputi hal-hal sebagai berikut.

Gempa Bumi

Pertemuan antar lempeng kerak bumi dapat menimbulkan goncangan yang dinamakan gempa tektonik. Kalau gempa ini terjadi di dasar laut, maka dapat menimbulkan gangguan terhadap kondisi ekuilibrium dari air laut.
Proses selanjutnya akan diikuti dengan upaya air laut untuk kembali pada kondisi ekuilibrium tersebut mengikuti gravitasi. Gerakan ini dapat menyebabkan terjadinya energi yang mendorong gelombang laut naik secara vertical dan memunculkan tsunami.
Selain itu, lempeng-lempeng kerak bumi biasanya melakukan gerakan pergeseran dalam rentang waktu tertentu. Bila lempeng bumi bergerak secara vertikal dan berada di dasar laut, maka air laut akan mengalami gerakan turun ke bawah maupun ke atas mengikuti pergeseran lempeng bumi.
Besarnya tekanan yang ditimbulkan akibat gerakan naik turun ini dapat menghasilkan tenaga yang akan mendorong terjadinya gelombang dan dapat menjadi penyebab tsunami.

Gunung Berapi

Gelombang tsunami juga dapat terjadi akibat aktifitas gunung berapi yang berada di dasar laut. Aktifitas ini bisa sebagai akibat dari pergeseran lempeng bumi sehingga menyebabkan guguran lava maupun batuan gunung.
Bila guguran lava ini terjadi dalam volume yang cukup besar, maka dapat menyebabkan terganggunya kondisi air laut. Air laut yang terdesak dapat mendorong dan memunculkan terjadinya gelombang besar tsunami.
Aktifitas gunung berapi lainnya juga bisa menimbulkan gangguan terhadap kondisi air laut. Di antaranya aktifitas magma yang menyebabkan terjadinya erupsi maupun berupa letusan gunung seperti terjadi pada letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 yang menjadi penyebab tsunami besar dan mengakibatkan tak kurang dari 36 ribu orang meninggal dunia.

0 komentar:

Poskan Komentar